Cerita Penulis

Anwar Abbas, Statistisi yang Jadi Penulis Artikel Islam di BaBe

Anwar Abbas adalah seorang statistisi berusia 34 tahun di Badan Pusat Statistik Kota Palu. Sebagai seorang statistisi, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk melakukan pengumpulan data di lapangan. Berbagai survei dan sensus sudah menjadi rutinitasnya. Selain itu, penyuka olahraga sepak bola ini juga sedang menempuh pendidikan Magister Manajemen di Universitas Tadullako (Untad) Palu.

Dilihat dari sisi pendidikan formalnya, ia tidak memiliki latar belakang sebagai seoang penulis. Pendidikan S1-nya diselesaikannya di Jurusan Matematika di Universitas Negeri Makassar. Awalnya, hobi menulis Anwar muncul dari kesukaannya membaca berbagai jenis buku dan menonton film di bioskop. Membaca dan menonton membuat kepalanya dipenuhi banyak imajinasi dan ide. Akhirnya, ia memilih tulisan sebagai wadah untuk menampung berbagai imajinasi dan ide yang menumpuk di kepalanya.

Kemampuan manajemen waktu yang baik, membuatnya mampu tetap menyalurkan hobi menulisnya di tengah kesibukannya sebagai statistisi. Bahkan, beberapa tulisan opininya sempat menghiasi halaman koran lokal di Sulawesi Tengah. Bukan cuma itu, ayah dua anak ini juga mengelola blog pribadi yang berisi tulisan-tulisannya dalam berbagai bentuk, mulai dari esai, cerpen, hingga puisi.

Akhir Juli 2017, seorang temannya menyarankan untuk memperlebar pengalaman menulisnya di situs Baca Berita (BaBe). Berbekal pengalamannya sebagai pengasuh majalah dinding di Lembaga Dakwah Kampus semasa kuliah S1, ia memilih Kanal Islam BaBe sebagai wadah petualangan menulisnya yang baru. Lazimnya penulis baru, beberapa kali tulisannya mendapatkan penolakan demi penolakan. Namun itu semua tidak membuatnya putus asa, dengan semangat dan kemauan untuk terus belajar, akhirnya satu per satu tulisan artikelnya berhasil nangkring di Kanal Islam BaBe.

“Kemampuan menulis bukanlah bakat. Kemampuan menulis diperoleh dari hasil belajar dan latihan terus menerus, serta motivasi yang tinggi,” tuturnya.

Hasil kerja kerasnya pun memperoleh hasil. Agustus 2017, ia mendapatkan sebuah email dari tim BaBe yang berisi tawaran untuk menjadi kontributor tetap di Kanal Islam BaBe. Kesempatan itu tidak disia-siaannya, tanpa berpikir panjang ia menerima tawaran tersebut.

“Bukan masalah uang, tapi dengan menjadi kontributor tetap di BaBe aku menantang diriku sendiri untuk dapat menulis setiap hari. Selain itu, banyaknya pembaca di BaBe adalah kesempatan untuk berbagi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang,” demikian alasannya.

Bagi Anwar, kesulitan mencari waktu dan ide bukanlah alasan pembenaran untuk tidak menulis. Menurutnya, kita saat ini berada di zaman teknologi informasi dan komunikasi. Waktu bisa diatur sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan dengan efektif dan efisien. Ide bertebaran dimana-mana, tinggal sensitifitas kita untuk melihatnya dan kemudian menuangkannya kebentuk tulisan.

“Bekerja sebagai statistisi di Badan Pusat Statistik itu tidak mengenal waktu, terkadang kita harus mendatangi responden pagi, siang, sore, bahkan terkadang di malam hari. Tapi dengan manajemen waktu yang baik, selalu ada waktu untuk menuangkan ide-ide ke dalam tulisan.”

Karena, batasan-batasan yang ada itu diciptakan oleh diri kita sendiri; bukan dari orang lain atau dari keadaan yang telah dan akan terjadi. Latar belakangmu tidak ada hubungannya dengan dunia tulis-menulis? Lalu siapa yang bilang karena hal itu, kamu tidak bisa menulis?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *